Monday, 5 December 2011

Mencoba memulai

13-10-11
hari itu mulai njajal nulis, apapun itu, yang penting nulis. tapi baru sempat nge-post-in. awal mula kenapa pengin nulis adalah bahwasanya termotivasi pada sosok yang dinamakan Raditya Dika. sosok aneh, lucu, bermuka angel (cara bacanya sesuai hurufnya yah). saat aku liat dan ndengerin kisah hidupnya sebagai penulis dari standup mas radith, kesan pertama yang muncul adalah aneh banget ni orang, lebih aneh lagi orang-orang di sekitarnya. kok ada penulis yang bertipe kaya gitu, lebih aneh lagi ada penerbit yang mau nerbitin tulisannya.
namun akhirnya aku sadar dan insyaf, kalau di Indonesia itu orang kreativ masih dihargai, yang penting karyanya orisinil um,meski terbilang aneh.
sampai akhirnya aku nyerah memaki-maki si mas Radith terus, malah beralih menjadi nge-fans gila, menginpirasi beutd (baca:banget, bahasa alay) dan akhirnya aku ingin menjadi seperti beliau. namun ada yang mengganjal di lubuk hati yang paling dalam. apa bisa Nyong yang notabene wong Tegal asli bisa gaul abes (abis) kaya sesosok Radith yang bergelar AGJ alias Anak Gaul Tegal. sedangkan gelarku AGGT alias Anak Ga Gaul Tegal. nyong mikir suwe nemen, bisa ora dongeta. hal inilah salah satu faktor mengapa aku kurus kerempeng abis.
catatan. dari dulu aku udah kurus tau

Friday, 30 September 2011

Makalah Hadits


PERNIKAHAN

I.         PENDAHULUAN
Menikah merupakan sebuah fitrah yang ada dalam diri manusia. Fitrah tersebut memang diciptakan untuk manusia sebagai rahmat yang dilimpahkan Allah SWT kepada manusia. Sesuai firman Allah dalam al-Qur’an surat Ar-Rum: 21 telah jelas kekuasaan Allah yang memberi fitrah kasih dan sayang dengan menciptakan istri. Rasulullah SAW pun menganjurkan umatnya untuk menikah. Bahkan Rasulullah SAW menyebut pernikahan sebagai sunnahnya.
Hal ini menunjukan pentingnya menikah bagi manusia. Dengan melaksanakan pernikahan dapat menghindarkan manusia dari perbuatan maksiat, zina misalnya, merupakan perbuatan yang dikhawatirkan paling mungkin terjadi jika seseorang tidak menikah. Menikah juga dapat menciptakan keluarga yang harmonis yang dikelilingi dengan cinta dan kasih sayang sehingga mendapat kebahagiaan dalam hidup.
Oleh karena itu Islam menempatkannya dalam syariat dengan kaidah-kaidah yang ada dan juga dijelaskan aturan mengenai pernikahan. Aturan ini bertujuan agar dapat terciptanya keluarga yang sakinah, mawadah, wa rahmah dan bernafaskan Islam, bukan sekedar doa di awal terbentuknya keluarga.

II.      RUMUSAN MASALAH
Dalam permasalahan kali ini, pemakalah akan mencoba membahas beberapa pokok permasalahan yang terdapat dalam Pernikahan diantaranya:
A.      Apa Pengertian Pernikahan?
B.       Apa Macam-Macam Hukum Menikah?
C.       Apa saja Rukun dan Syarat Sah Pernikahan?
D.      Apa saja Tujuan dan Hikmah Pernikahan?


III.   PEMBAHASAN
A.      Pengertian Pernikahan
Nikah, menurut bahasa: al-jam’u dan al-adhamu yang artinya kumpul. Makna nikah (Zawaj) bisa diartikan dengan aqdu al-tazwij yang artinya akad nikah. Juga bisa diartikan wath’u al-zaujah bermakna menyetubuhi istri. Tihami dan Sohari Sahrani mengutip peendapat yang dikemukakan Rahmat Hakim tentang definisi nikah, bahwa kata nikah berasal dari bahasa Arab “nikahun” yang merupakan masdar atau asal kata dari kata kerja (fi’il madhi) “nakaha”, sinonimnya “tazawwaja” kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia perkawinan. Kata nikah sering juga dipergunakan sebab telah masuk dalam bahasa Indonesia.[1]
Pengertian nikah menurut sebagian fukaha adalah

عَقْدٌ يَتَضَمَّنُ إبَاحَةَ وَطْئٍ بِلَفْظِ النِكَاحَ آَوِ التَزْوِيْجِ اَوْ مَعْنَا هما.
Artinya; “Aqad yang mengandung ketentuan hukum kebolehan hubungan kelamin dengan lafadl nikah atau ziwaj atau yang semakna keduanya”.[2]
Para ahli hukum Islam Mutaakhirin seperti yang ditulis oleh Muhammad Abu Ishrah memakani nikah sebagai berikut:

عَقْدٌ يُفِيدُ حَلَّ العُشْرَةِ بين الرَجُلِ والمَرْآةِ وَتَعَاوَنُهُما ويُحَدُّ ما لِكِلَيْهِما مِنْ حُقوقِ
 وما عَلَيْهِ مِنْ وَاجِبَا تٍ
Artinya; “Aqad yang memberikan faedah hukum kebolehan mengadakan hubungan keluarga (suami-istri) antara pria dan wanita dan mengadakan tolong menolong dan memberi batas hak bagi pemiliknya serta pemenuhan kewajiban bagi masing-masing”.[3]
Dari pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa pernikahan adalah suatu aqad yang mengandung ketentuan hukum kebolehan mengadakan hubungan kelamin, dalam hal ini juga membentuk keluarga, antara pria dan wanita untuk saling tolong menolong dan memenuhi hak dan kewajiban bagi masing-masing agar dapat terwujud keluarga yang diliputi rasa kasih sayang yang diridlai Allah SWT.
B.       Hukum-Hukum Pernikahan
Untuk menyimpulkan sebuah hukum, tentunya harus ada landasan hukum terlebih dahulu. Hadits Nabi tentang anjuran menikah sering dijadikan hujjah dalam pembahasan ini.
Rasulullah bersabda:

حَدثنا ابو بكرِ بنِ أبي شَيْبَةَ وأبو كُرَيْبٍ قالا: حَدثنا أبو مُعا ويةَ، عن الأعمش، عن عمارة بن عُمَيْرٍ،عن عبد الرحمن بن يزيد عن عبد الله قال قال لنا رسول الله صلى الله عليه وسلم يَا مَعْشَرَ الشَبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أغَضُ للبَصَرِ أحْصَنُ للفَرْجِ ومن لم يَسْتَطِعْ فَعَليهِ بالصَّومِ فإنه لَهُ وِجَاءٌ (رواه مسلم)[4]
Artinya: “Sudah diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib berkata: sudah diriwayatkan oleh Abu Mu’awiyah, dari al-A’mas dari ‘Umarah bin ‘Umair, dari Abdurrahman bin Yazid, dari Abdillah telah berkata kepada kami, Rasulullah SAW bersabda kepada kami:”Hai kaum pemuda, apabila diantara kalian mampu untuk kawin, hendaklah ia kawin, karena yang demikian itu lebih menundukan pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan, dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu sebagai kebiri baginya”. (HR. Muslim)[5]

Selain hadits diatas, hadits dari A’isyah tentang nikah sebagai sunnah Nabi juga dapat dijadikan hujjah.
Rasulullah bersabda:
عنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم النِّكَاحُ مِنْ سُنَّتِي فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي وَتَزَوَّجُوْا فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ الاَمَمَ وَمَنْ كَانَ ذَا طَوْلٍ فَلْيَنْكِحْ وَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ فَإِنَّ الصَوْمَ لَهُ وِجَاءٌ (رواه ابن ماجه)[6]
Artinya: “Nikah itu sebagian dari sunnahku barangsiapa yang tidak yang tidak mengamalkan sunnahku. Maka dia bukan dari golongan umatku dan nikahnya kalian semua. Karena sesungguhnya aku berlomba-lomba memperbanyak umat dan barangsiapa yang mempunyai maskawin maka menikahlah dan barangsiapa yang tidak menemukan maskawin, maka hendaklah berpuasa. Karena berpuasa itu sebagai kebiri baginya”. (HR. Ibnu Majah)

Adapun hukum-hukum pernikahan itu ada lima:
1.         Jaiz (diperbolehkan), ini asal hukumnya
2.         Sunat, bagi orang yang berkehendak serta mampu memberi nafkah dan lain-lainnya.
3.         Wajib, bagi orang yang mampu memberi nafkah dan akan tergoda pada kejahatan (zina).
4.         Makruh, bagi orang yang tidak mampu memberi nafkah.
5.         Haram, bagi orang yang berniat akan menyakiti perempuan yang dinikahinya.[7]




C.       Rukun dan Syarat Sah Pernikahan
Rukun yaitu sesuatu yang mesti ada yang menentukan sah atau tidaknya suatu pekerjaan (ibadah), dan sesuatu itu termasuk dalam rangkaian pekerjaan itu. Syarat yaitu sesuatu yang mesti ada yang menentukan suatu pekerjaan (ibadah), tetapi sesuatu itu tidak termasuk dalam rangkaian pekerjaan itu. Sah yaitu sesuatu pekerjaan (ibadah) yang memenuhi rukun dan syarat.
Pernikahan yang didalamnya terdapat akad, layaknya akad-akad lain yang memerlukan adanya persetujuan kedua belah pihak yang mengadakan akad. Adapun rukun nikah adalah:
1.         Mempelai laki-laki.
2.         Mempelai perempuan.
3.         Wali.
4.         Dua orang saksi.
5.         Shigat ijab kabul.
Dari lima rukun nikah tersebut yang paling penting ialah ijab Kabul. Sedangkan yang dimaksud syarat perkawinan ialah syarat yang bertalian dengan rukun perkawinan, yaitu syarat-syarat bagi calon mempelai, wali, saksi, dan ijab kabul.[8]
Syarat-syarat perkawinan yang mengikuti rukun yaitu:
1.         Syarat-syarat suami:
a.         Calon suami beragama Islam.
b.        Terang bahwa calon suami itu betul laki-laki.
c.         Orangnya diketahui dan tertentu, jelas orangnya.
d.        Calon mempelai laki-laki itu jelas halal kawin dengan calon istri.
e.         Calon mempelai laki-laki tahu/kenal pada calon istri serta tahu betul calon istri halal baginya.
f.         Calon suami ridha (tidak dipaksa) untuk melakukan perkawinan itu.
g.        Tidak sedang melakukan ihram.
h.        Tidak mempunyai istri yang haram dimadu dengan calon istri.
i.          Tidak sedang mempunyai istri empat.
2.         Syarat-syarat Istri
a.         Calon suami beragama islam.
b.        Terang bahwa ia adalah wanita.
c.         Wanita itu tertentu orangnya.
d.        Halal bagi calon suami.
e.         Wanita tidak dalam ikatan perkawinan dan tidak masih dalam masa ‘iddah.
f.         Tidak dipaksa, jelas orangnya, dan
g.        Tidak dalam keadaan ihram haji atau umrah.[9]
3.         Syarat-Syarat Wali
a.         Laki-laki.
b.        Baligh.
c.         Waras akalnya.
d.        Tidak terpaksa.
e.         Adil, dan
f.         Tidak sedang ihram.

Saturday, 24 September 2011

pada malam minggu, kira2 tanggal 24 september, pas adan isa kweh, xile koh njaluk ditudukna bloge aku. asline isin sih, bokate darani pamer, tp mbeih temen lah. kyeh le aku lagi nulis.. awagan mboran.
gawe blogo njajal

Monday, 7 February 2011

utak utik

behhhh utak utik blog mumet nemen,, pengaturane kuwe loh mumet men, gawe pengen mangan bae (laka hubungane yah)
pokoke bimbang men lah..
tapi asik duwe blog dewek

njajal

lagi dina senen, tanggale ari ora salah 6 februari 2011 aku njajal gawe blog, kaya apa rasane duwe blog dewek. jebule gawe blog gampang sung, jajal beng nt2 gaawe. sung laka 5 menit (dong nt cepet, dong nt ne suwe ya bs sadinadina)
kaya kuwe bae ndipit lah, go permulaan ketak ketik blog. mbesuk2 dong ws apal tak posting2 maning sing madan berkwalitas