Tuesday, 3 January 2012

Ora Percayanan

Awal dalam cerita itu memang susah, ya sutlah.
Begini pada jaman dahulu kala ketika Uyah durung asin (Red. Garam belum asin). Aku sedang duduk-duduk jagongan sambil kanda alus bersama teman-teman, biasa antri raskin, eh antri mandi. lamaaa banget. Akhirnya peserta pertama telah keluar dari kamar mandi dengan rona wajah bahagia, mungkin dia habis shampo-an pake sunslik kali, kaya di iklannya cewek shampo-an sambil tertawa2, bahagia banget.

Aku masih termenung ngantuk menunggu giliran audisi di kamar mandi (apaan). Si peserta pertama tadi keluar kamarnya dengan rona wajah cerah ceria, nampak sekali raut wajah orang habis solat. tiba-tiba dia mendekat kepadaku, mata kita bertemu, kita saling bertukar senyum (apaan-part 2) nampak ia ingin berkata sesuatu, sumpah aku deg-degan gila (apaan.-part3). bener dia bertanya, "Tom, duwe cetutan kuku ora?". Suaranya terdengar merdu banget ditelinga, serasa terbang ke udara (apaan.-Part4).
"Neng kamar loro ana, gene kembar".

Bergegas ia menuju kamar yang dituju, sambil membawa obor ia menelusuri jalanan setapak menuju kamar dua. Singkat cerita pemotong kuku pun ia dapat, obor kembali di ambil, dan kembali ke kehidupan yang terang benderang di depan kamr mandi.

Ia langsung duduk di tepian balkon, deket tong sampah, dan langsung mengambil posisi siap memangkas sedikit kukunya yang hitam legam penuh cacing, belatung, kecoa, gajah(ngawur bgt).
Detik demi detik semua nampak normal-normal saja, namun tiba-tiba aku tergerak memperhatikannya saat ia mulai memotong kuku jempol kakinya. Ia nampak tekun memotong sisi demi sisi bagian kuku jempol kakinya, sampai tibalah bagian yang sangat krusial, pojok tepian jempol. Ia nampak "mengodek" kotoran berwarna hitam yang bersemayam disana, secara perlahan kotoran tersebut didekatkan ke hidung, "huuuuweeeeekkkkksss, ambune ndess....".

Setelah beberapa detik dia terhuyung-huyung karena bau yang ia hirup, ia tiba-tiba berkata, "ngambung meneh ah". Aku langsung nyletuk "wis ngarti mambu, tesih diambung bae kang"?.
"iyo, nek ra diambung, kayane rung mantep, gawe ketagihan, koe pengin nyicip? hahaha".
Aku termenung, dilema, akankah aku menerima tawarannya, atau menolak dengan kasar, hal inilah yang membuatku galau, pake banget. Namun akhirnya aku menolaknya, karena aku punya kotoran sendiri pikirku.

Hadehh, emang aneh manusia, sudah tau rasanya seperti itu, masih aja dicicipin, dan nampaknya aku pun sering melakukan hal itu.

Kesimpulanya: Manusia, makhluk yang ora percayanan

No comments:

Post a Comment

Tinggalin jejak yuk, Jangan jadi Silent Reader, biar bisa ngunjungin balik. Biar sama-sama ena, kaya permen jagoan neon, ena