Wednesday, 22 February 2012

Hidup Mahasiswa!!!

Hidup Mahasiswa!!!
Kepal tangan ke atas, siapkan toa. Kita serbu rektorat…
:sikut:

Sekelumit kata-kata diatas saya ambil dari internet, dan nampaknya memang kata itu sangat familiar di telingaku yang kata orang2 bernama mahasiswa. Yang jadi pertanyaan saia dari dulu, siapa yang pertama kali mencetuskan slogan itu, dan apa juga motivasinya, apa mahasiswa itu ga hidup sehingga harus ada kata-kata hidup diatas mahasiswa? Apa orang-orang menilai hidup itu harus jadi mahasiswa? Auah gelap.

Akhir2 ini, emang dari dulu sih, mahasiswa identik dengan demo, bukan demo masak, bukan pula demo promo peralatan rumah tangga, tapi demo yang kaya gituan, susah jelasinya, pokoknya demo yang cirri-cirinya ada di paragrap pertama diatas.

Mereka berdemo mengatasnamakan penindasan rakyat lah, ketimpangan sosial lah, kebijakan yang tak bijak lah, pokoknya yang ada kaitanya dengan kebijakan pemerintah. Mereka turun kejalan, membawa spanduk bertuliskan “dilarang buang sampah disini”,,,eh bukan ding. Tak hanya itu, mereka itu rame-rame dan pasti ada satu anak yang posisinya didepan membawa toa, dan berkoar-koar berbagai kata, sampai otot yang ada dilehernya keliatan, dialah kisanak yang berjuluk korlap (koordinator lapangan) atau koordinator aksi. Kalo aku sih ngliat hal itu kesannya kayak mau tawuran, soalnya mainnya kerokan, eh keroyokan, dan korlapnya sebagai leader dari kelompok itu, mungkin bagian verivikasi data kali yah.
NB. Cirri-ciri orang yang berposisi verifikasi data dalam tawuran: baris paling depan, dan kata-kata pertama yang muncul adalah “woi anak mana lo?” setelah itu dia catet. (Acho, akhir 2011).

Hah sampai alinea ini saia ga tau konsep yang akan saia tulis itu apa, ga jelas gitu deh, nulisnya hidup mahasiswa, nyabungnya ke verifikasi data. Yawis masalah demo mahasiswa, saya mendukung ente-ente semua TAPI dengan catatan, kalo boleh saia kasih saran, tulung jangan anarkis, jangan ngrusak fasilitas umum, jangan ngganggu orang-orang yang juga ingin menikmati fasilitas yang telah disediakan pemerintah, jalan rasa misalnya. Masih banyak cara lain kok tuk menyampaikan aspirasi tanpa anarkis, misal mendatangi instansi tertentu, trus ke bagian pengaduan masyarakat, gampang kalo ga direspon kerahkan pasukan tuk menyerbu ke situ (lho?! Jangan).

Saiia doakan semoga kedepan salah satu dari kita, mahasiswa, terutama yang doyan demo, ada yang duduk di DPR. Amiiin. Namun ketika sudah duduk di puncak klasemen sana, jangan sampai pada menutup mata, telinga, hidung, mulut, pusar, hati, dkk. terhadap aspirasi orang bawah, kalian harus ingat masa-masa dimana kalian turun jalan dan memperjuangkan rakyat. Jangan sampai dulu getol demo, setelah dah dapet kursi, diam aja. Bahkan dengan sedikit uang, kepentingan rakyat terabaikan.

Udahan lah, ntar dikira aku teori thok, prakteknya nol, sok nuturi, sok tau, dan sok2 yang lain.
saya Tomi selamat senja.

No comments:

Post a Comment

Tinggalin jejak yuk, Jangan jadi Silent Reader, biar bisa ngunjungin balik. Biar sama-sama ena, kaya permen jagoan neon, ena