Saturday, 11 February 2012

Sekelumit Pembuatan Cerpen


Akibat Lupa Tidak Minta Izin

Siang itu terasa panas, Ozan pun mengikuti pelajaran jam terakhir dengan terkantuk kantuk, sesekali dia melirik jam dinding di tembok kelas bagian belakang.
“Ah setengah jam lagi,” batinnya.
Diapun mengambil crayon dari tasnya.
“Menggambar aja ah, dari pada ngantuk.”
Baru beberapa gores ia menggambar, tiba-tiba ada suara ketukan Spidol di mejanya. Orang dengan tubuh gempal, berkumis tebal, berpakain rapi, ada dihadapan meja Ozan.
“Apa yang kamu lakukan,Zan.” Kata Pak Arya dengan nada geram.
Pak Arya adalah salah satu guru yang mempunyai disiplin tinggi di sekolah.
“Emmm..anu Pak..” jawab Ozan terbata-bata.
“Anu anu kamu tidak memperhatikan pelajaran ya?”
“Em..mem..perhatikan Pak.”
“Kalau begitu, siapa proklamator kemerdekaan Indonesia?”
Ojan terdiam cukup lama, dia memang tidak tahu karena tidak memperhatikan.
“Itu menunjukan kamu tidak memperhatikan,” kata Pak Arya.
“Ini sejarah besar bangsa Indonesia Zan, proklamator kemerdekaan adalah Ir. Soekarno dan Moh. Hatta kamu harus tahu itu, Zan,”
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah bangsanya.” Jelas Pak Arya panjang lebar.
“Iya Pak maaf, habisnya saya ngantuk sih Pak, jadi daripada saya tertidur lebih baik saya menggambar saja Pak, nanti kalo saya tertidur malah saya dimarahin bapak,” Ozan berkilah.
“Tapi bukan begini cara menghilangkan rasa kantukmu, Zan, Bapak malah tidak suka cara ini”. Jawab Pak Arya melembut.
“Lalu bagaimana pak?”
“Ke Mushala sana cuci muka, berwudhu yang benar.” Perintah Pak Arya.
“Baik pak.”
Ozan keluar kelas menuju Mushala dengan terburu buru
***
Bel pun berbunyi keras tanda pelajaran telah usai. Murid-murid kelas V berhamburan keluar kelas. Ozan pun ikut keluar kelas, dia pulang bersama Ari, teman sebangku sekaligus tetangganya. Rumah mereka berdekatan, selisih 3 rumah. Mereka pulang berjalan kaki karena letak sekolah cukup dekat dengan rumah mereka. Kondisi jalan masih becek akibat hujan yang turun cukup lebat semalam.
“Eh, Ri, tali sepatuku lepas nih, tunggu yah,”
“Iya, santai aja,”
Ozan lantas jongkok membetulkan tali sepatunya, sementara Ari berdiri sekitar 3 meter didepannya, sambil bersandar di tiang listrik. Terdengar suara sepeda motor, bersamaan dengan itu tiba-tiba “byurrrr”. Rupanya  Ozan tak menyadari ada motor melaju kencang. Motor itu melindas genangan air hujan tepat disamping kanan Ozan. Diapun langsung meneriaki si pengedara motor, tapi pengendara itu tetap melaju.
“Sudahlah, Zan, yang sabar,” hibur Ari.
Baju Ozan basah dan kotor, Ari juga sedikit kecipratan air genangan tadi.
“Aku heran, aku merasa hari ini itu aku sial melulu,” keluh Ozan.
“Tadi diomelin Pak Arya, sekarang kecipretan motor, huh,”
“Hush ga boleh begitu, Istighfar Zan, coba deh introspeksi, ada yang kelupaan ga dari kamu bangun subuh sampai mau brngkat?” Tanya Ari.
“Apa yah, perasaan ga ada deh, aku subuh jamaah kok, eh, tapi tunggu dulu,”
Sejenak Ozan memejamkan mata sambil meletakkan jari telunjuk di dahinya.
“Astaghfirullah, aku lupa ga minta izin berangkat sama Bapak Ibu dan ga cium tangan mereka,”
“ Hmmm pantes, itu mungkin penyebabnya, kata Pak Ustadz, cium tangan saat mau berangkat sekolah itu penting, karena doa restu dan ridho orang tua itu dapat melancarkan aktifitas kita,” terang Ari.
“ya ya ya aku tau, namanya juga lupa,” kata Ozan.

Tak terasa mereka sudah masuk gerbang perumahan tempat mereka tinggal. Ari telah sampai di depan rumahnya. Ozan pun mempercepat langkah kakinya, ia tak sabar ingin cepat sampai rumah. Ozan ingin minta maaf karena tidak minta izin sewaktu berangkat dan menceritakan kejadian hari ini pada kedua orangtuanya.

No comments:

Post a Comment

Tinggalin jejak yuk, Jangan jadi Silent Reader, biar bisa ngunjungin balik. Biar sama-sama ena, kaya permen jagoan neon, ena