Friday, 22 November 2013

Farewell Nephew, Farewell Grandma



Mendapatkan ujian berurutan memang gak enak. Pikiran kita jadi terbagi, konsentrasi buyar. Gak Cuma ujian dalam pendidikan. Ujian yang sebenarnya jika berurutan juga rasanya gak enak. Ini lah yang lagi dirasakan sama keluarga gue.

Ujian ini sukses membuat gue sempet vakum beberapa minggu untuk ngeblog. Bener-bener menyita pikiran banget.

Ujian berat datang silih berganti menghampiri keluargaku. Tanggal 9 november 2013 lalu keponakan gue dipanggil sama Yang Maha Pencipta. Dia terlalu cepat pake banget untuk dipanggil. Gue belum melihat kelucuan dia, belum mencubit pipinya, belum sempet ngajarin dia solat, bahkan gue belum denger dia manggil ‘om’ dia udah keburu dipanggil. Ya. Dia kembali saat masih dalam perut kakak gue. Tepat di usia kehamilan ke enam.


Kejadian bermula saat sabtu. Biasanya kakak gue setiap pagi ngrasa ada yang nendang-nendang dalam perutnya. Eh pas sabtu kok gak nendang-nendang. Dia Tanya ke temennya, kakak gue kan kerjanya dirumahsakit. Temen kakak gue ambil stetoskop dan ngerasa gak ada denyut apa-apa saat stetoskop ditempelkan ke perut kakak gue. Disitu kakak mulai cemas. Dia pulang ke kos. Siang menjelang sorenya ibu sama kakak ipar gue nyampe ke kos kakak gue. Mereka periksa ke dokter kandungan merangkap teman kerja kakak gue. Disitu fix dokter menyatakan dede bayi udah gak ada. katanya bayinya kena infeksi. Infeksi apa? Gak ada keterangan, dan dokter gak bisa ngejelasinnya.

Kadang memang begitu, Tuhan gak perlu alasan yang logis untuk memanggil makhluk-NYa, dan tugas kita sebagai hamba-NYa adalah ikhlas dan bersabar.

Begitu dinyatakan detak jantung dede bayi gak ada, ibu sama kakak ipar langsung meminta agar bayi cepet dikeluarkan. Kakak langsung masuk ruang perawatan.  Melalui persalinan normal Alhamdulillah dede bayi berhasil dikeluarkan.

Namanya Ati Aulia Hikmatika. Kata bapak dan kakak dia cantik. Hidungnya mancung, bayinya panjang, terus kulitnya putih. Pipinya juga cabi. Sempurna untuk masuk kategori bayi cantik dan imut. Disini gue belajar, sesempurna apapun manusia, kalau tidak bernyawa akan terasa kurang.

Esok harinya keponakan gue dikubur. Sementara kakak pulang dari rumah sakit dan langsung cuti 40 hari.

Belum pulih kondisi keluarga gue, mental kami kembali diuji dengan kabar duka. Tanggal 16 Nopember 2013, Embah gue, ibu dari ibu menyusul keponakan gue kembali ke Allah. Di usia yang hampir 90 tahun tubuh embah udah gak kuat lagi menahan laju usia. Diantara anggota keluarga besar gue, embah lah yang berusia paling panjang. Yang lebih hebat lagi, embah meninggal bukan karena sakit keras, beliau hanya batuk. Memang beliau sudah terlalu tua. Dia sebenarnya masih sehat. Sebelum sakit ini pun dia masih rajin urus-urus dapur, bahan bebrapa bulan lalu dia masih kuat menggarap sawah, meskipun gak bisa nge-handle semua.

Disini gue belajar, jika ada orang bilang ‘aku ingin hidup 1000 tahun lagi’ dia bego. Umur 60 an aja penyakit udah mulai berdatangan. Yang terpenting bukan umur yang panjang, kesehatan dan berapa banyak kita bermanfaat bagi orang lain, itu yang paling penting.

Yang paling bikin nyesek adalah, saat dua ujian berat ini, gue gak berada disisi mereka. Saat keponakan dipanggil, gue gak ada disisi kakak gue. Saat embah dipanggil, gue gak ada disisi ibu untuk menguatkan. Bahkan gue gak berada disisi embah. Embah ada di Purworejo. Ibu, bapak, dan kakak ada di Tegal. Sementara gue ada di semarang. Gue merasa adik sekaligus anak gak berguna. Gak bisa hadir untuk menguatkan anggota keluarga yang lain.

Meskipun gue terus dikabari mengenai kakak dan embah, rasanya kurang mantep jika tidak ketemu langsung. Melihat keadaan pake mata gue sendiri , bukan lewat foto atau video call. Bisa memegang tangan mereka mengucapkan kalimat untuk menguatkan.

Gue tau mereka belum tentu kuat menghadapi ini, gue pun jujur gak kuat. Tapi jika kita berkumpul siapa tau bisa menjadi kuat. Setidaknya membuat gue sadar dan bersyukur gue masih punya kakak, kakak sadar masih punya bapak ibu, ibu sadar masih ada anak-anaknya yang akan berusaha selalu ada disisinya.

Ketika dua orang atau lebih yang sama-sama tidak kuat berkumpul sadar gak sadar mereka akan saling menguatkan satu sama lain.

Gue yakin pasti ada hikmah dibalik ujian ini. karena kita gak akan pernah naik kelas jika gak ada ujian.

No comments:

Post a Comment

Tinggalin jejak yuk, Jangan jadi Silent Reader, biar bisa ngunjungin balik. Biar sama-sama ena, kaya permen jagoan neon, ena