Thursday, 12 December 2013

Stasiun



“Satu,  dua, tiga, empat, lima.” Aku menghitung antrian di depanku. Orang-orang yang memiliki tujuan sama. Aku berdoa semoga masih mendapatkan tiket.

Suara petugas dari pengeras suara terdengar sumbang kala mengumumkan kereta yang akan tiba di stasiun ini. Kenapa bukan perempuan saja yang mengumumkan. Suara petugas berganti dengan suara kereta yang perlahan kian jelas mendekat suaranya.

Tiga orang lagi didepanku. Sambil menunggu aku melihat sekeliling. Tampak lengang. Aku lihat alroji di tangan kiri ku. 07:09. Pantas sepi.

Suara berbeda terlihat dipintu keluar. Orang-orang keluar dari stasiun. Penumpang yang turun dari kereta yang baru tiba. Kedatangan mereka langsung disambut dengan tukang becak, ojek dan supir taksi. 

Giliranku akhirnya tiba. “Tiket Kaligung ke Tegal buat besok mbak.”
 “Yang jam berapa mas? Nomor berapa? berapa tiket mas?
“Yang sore. satu aja mbak terserah mau nomor berapa.”

Tiket kepulangan ke Tegal sudah didapat. Jumat pukul 16.55. tiap tiga minggu sekali aku pulang. Melepas rindu dan bertukar cerita bersama ibu dan bapak. 

Kulipat tiket dan kumasukan ke dompet. aku berbalik. Menuju motor pinjaman yang berada diparkiran. Antrian tampak mulai memanjang. “Untung datang pagi-pagi.” Batinku, sambil berjalan.

‘Hei Dimas!”
Aku menoleh. Suara tadi berasal dari perempuan yang tengah duduk di kursi panjang dekat mini market.
“hei.. hmm Dita?” 

Dia tersenyum. Ternyata benar Dita. Senyumnya masih sama seperti tiga tahun lalu. Senyum indah disertai mata yang menyipit. Rambutnya sekarang sebahu dibiarkan terurai. Kaos berkerah dilapisi jaket hoodie abu-abu terlihat serasi dengan jeans biru gelap. 

“Apa kabar? Sini.” Dita menepuk bangku kosong disampingnya.

Aku duduk disampingnya. Mengobrol basa-basi sambil bertukar kabar. Aku masih grogi saat bersamanya. Tiga tahun berlalu, rasa grogi ini belum juga hilang. Aku suka tersenyum kalau membayangkan Dita. Cinta pertama yang tak tersampaikan. Dan sekarang kami bertemu lagi di tempat yang tak terduga, stasiun.

“Kamu kuliah di Semarang juga to, Dim?”
Aku mengangguk.
“Yah kamu gak bilang sih aku juga kuliah disini tau. Ternyata tiga tahun kita di kota yang sama. Sini nomor kamu.” 

Selepas SMA kita memang lost contact. Aku terlalu grogi untuk meminta nomor HP Dita. Padahal aku punya banyak nomor perempuan dan sering sms-an. Biasa saja. Tapi entah kenapa kalau sama Dita aku grogi dan salah tingkah.

“Kesini sama siapa, Dit?”
“Tuh.” Dita menunjuk ke antrian tempat aku membeli tiket tadi. “Yang pake jaket hitam. Namanya Bagas.”

“Bagas?” aku sedikit tercekat. Dita mengangguk. Bagas adalah kakak kelas aku dan Dita semasa SMA. Setahuku Bagas adalah salah satu anggota geng ternama di SMA. Meskipun tidak pernah berbuat onar di lingkungan sekolah, tapi kabarnya geng itu sering tawuran dengan SMA lain.

“Kok bisa? Dia kan dulu..” belum sempat aku meneruskan, Dita memotong.
“Dim, sorry aku kesana dulu. Dah.”

Aku menoleh ke arah antrian. Dari kejauhan tampak seorang pria kurus berambut gondrong berdiri sambil menatap Dita. Dita berjalan cepat. Pria tadi beralih menatapku tajam. Aku tersenyum sopan menyapanya. Dia diam saja dan langsung memegang tangan Dita masuk ke peron stasiun.

Aku masih bingung dengan apa sebenarnya terjadi. Hapeku bergetar. Aku buka SMS masuk. Minggu depan kita ketemuan, banyak yang harus aku ceritakan. Dita.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam “Birthday Giveaway “When I See You Again” di blog: http://itshoesand.wordpress.com “.
selamat ulang tahun ya. keep blogging keep writing. semoga terus menginspirasi :) 

8 comments:

  1. Wah, ikutan giveaway? Sukses ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Sekalian ngelatih skill. Terimakasih sudah berkunjung. Sukses jg buat kamu.

      Delete
  2. Terima kasih ucapannya, Tomi :D
    Btw, tulisanmu ringan dan asyik. Gaya bahasamu juga ngalir. Tapi ada yang kurang nih, ending kurang nendang. Jadi pengin nambah, ini belum selesaiii. /inget ff/ :D
    Terlepas dari semua itu, tetap semangat, keep writing too!
    Terima kasih sudah berpartisipasi dan salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih kritik sarannya. Sering2 kasih masukan ya. Wah, coba terusin disini dong..hehe.
      Sama2. Salam kenal juga.

      Delete
  3. waaah critanya naksir Dita si Dimas.. terus pacarnya preman ya?
    wassalam aja deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya kaya kuwe lah mas. jawane. bisa dadi sinetron ora kweh mas.haha

      Delete

Tinggalin jejak yuk, Jangan jadi Silent Reader, biar bisa ngunjungin balik. Biar sama-sama ena, kaya permen jagoan neon, ena