Saturday, 26 April 2014

Kuliah Karo Nyantai Bareng Rekan Sejawat



Ada yang bilang KKN itu Kuliah Kerja Nyata. Ada lagi yang bilang Kuliah Karo Nyantai. Dan ternyata lebih cocok singkatan yang terakhir. Seenggaknya sampai hari ini. Pada postingan sebelumnya gue ngerasa takut KKN itu nyeremin. Dan setelah hampir setelah seminggu jalan, Alhamdulillah…masih nyeremin.

Gimana gak nyeremin. Belum genap sepekan, udah ada 4 warga desa sini yang meninggal. Tim KKN bagai kutukan pengundang malaikat pencabut nyawa.
KKN angkatan ini Alhamdulillah ditempatkan semua di Kab. Semarang. 68 posko tersebar di 6 kecamatan. Gue ditempatin di desa Pagersari kecamatan Bergas Kabupaten Semarang.
Minggu pertama ini dihabiskan dengan observasi. Ngamati keadaan desa sekitar, sowan ke beberapa kadus, dan beberapa gadis desa. *eh

Posko gue nomornya 38. Coba kalau 48, lebih asyik kali yah. Kayak JKT48 gitu. Dengan nomor Posko 38, 15 anak aneh selama 45 hari akan menempati rumah Pak Lurah. Alhamdulillah Pak Lurahnya baik hati. Bu Lurahnya juga. Cie cie sama baiknya cie.

Beliau dengan senang hati bersedia rumahnya -selama 45 hari- diobrak abrik, diberantakin, di kotori, di pipisin, di ee’in.  Udah gitu kalau mau makan dipersilahkan sesuka perut. Bersyukur banget.
Tapi satu yang bikin gue bersyukurnya gak henti-henti. Anaknya cakep maksimal bro. Anak unnes PGSD angkatan satu tingkat dibawah gue. ini potonya.


Cantikkan? Tapi sayang dia udah ada yang punya. Berdasarkan cerita bu Lurah, setelah gue kepoin habis-habisan. Dia udah punya cowok. Anak satu kampus sama gue, tapi dia angkatan tua dan umurnya juga udah tua.

Oh iya pada postingan sebelumnya kan gue sempet ngerasa takut. tapi seiring berjalannya waktu pelan-pelan rasa khawatir berlebihan itu gue harap bisa berkurang. Karena gue gak sendirian. Gue bersama 1036 anak KKN bareng dan ditemenin 14 manusia satu posko yang siap menjadi bemper gue buat suruh maju duluan.



Tuesday, 15 April 2014

Belajar Tuli



“Eh katanya nanti KKN mumet lho.” Kata Bunga di suatu siang setelah pembekalan KKN.

“Masa? Se-mumet itukah?” Jawab Mawar. Raut wajahnya berubah pucat pasi seketika.

“Agenda banyak, pengeluaran juga banyak. Belum lagi ngadepin warga situ hadeh.”

“Duh aku kok jadi takut yah.”

“Sama aku juga.”

Bunga, sebut saja begitu. Bukan. Dia bukan nama samaran dari korban pemerkosaan. Dia juga bukan anak yang ditelantarkan orangtuanya. Dia hanya cewek kampus biasa dengan naluri yang “cewek” banget. Suka nyebarin berita dengan bermodal “katanya”

Satunya lagi namanya Mawar. Sebut saja begitu. Lengkapnya Mawardi. Mau dipanggil Ardi kayaknya gak cocok. Dia cowok tulen tapi kelakuan dan sikapnya kaya cewek. Sensitif dan perasa. Serta gampang mempercayai omongan orang yang hanya dengan bermodal “katanya”

Mawar denger cerita Bunga kaya diatas, jadi kepikiran. Dia mencoba menenangkan perasaannya dengan bertanya ke siapapun yang udah pernah KKN. Ke alumni, ke kakak angkatan, sampai ke pejabat. Eh kalau pejabat sama-sama KKN tapi beda singkatan.


“Bang, bener gak sih KKN bikin pusing?” Tanya Mawar ke salah satu Kakak angkatan.

“Hah pusing? KKN itu santai banget, Maw. Gue aja setelah KKN malah gemukan.” Jawab si kakak angkatan itu.

“Bukannya lo emang udah gemuk yah?”

“Oh iya lupa. Tapi ini serius. KKN enak banget. Kuliah yang paling nyante ya KKN.” Jawabnya dengan nada mantap.

“Bukannya sibuk dengan berbagai agenda ya?” Mawar mulai menyampaikan kekhawatirannya.

“Lumayan sih. Tapi gantian lah, masa iya lo mau ikut kegiatan terus. Digilir. Jadi meskipun programnya banyak lo gak bakal ngerasa capek.”

“Kalau yang lain gak mau dan sering nunjuk gue buat ngewakilin?”

“KKN itu kerja kelompok, tinggal pinter-pinter ngaturnya aja.”

“Tapi bang…”

“Udah, KKN itu nyenengin.” Sambil menepuk bahu Mawar, kakak angkatan itu pergi dengan melambai. 

Ada harapan secercah bagi Mawar akan sirnanya kekhawatiran mengenai KKN.

Sependek perjalanan kampus ke kos, Mawar terus teringat obrolan tadi dari dua orang yang berbeda.
“Kata Bunga KKN bikin pusing, gak bebas. Tapi kata kakak angkatan KKN nyenengin. Yang bener yang mana.” Pikiran mawar terus bertarung sendiri nyari-nyari kebenaran.

Mawar lanjut tanya lagi ke banyak orang dan mendapat jawaban bervariasi namun sama dari dua kategori tadi. Ada yang bilang gak enak, ada yang bilang enak. Ada yang bilang ribet, ada lagi yang bilang asik. Kebanyakan bilangnya sih asik.

Tapi dasarnya Mawar punya kepribadian yang perasa. Jadinya susah. Dia terus memikirkan keribetan yang akan timbul gara-gara KKN.

Ada kalimat beken bilang "alasan Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut supaya kita banyak mendengar daripada berbicara." Tapi menurut gue, ada saat dimana kita harus menutup telinga dan berhenti mendengar. 


Saat kita mulai mendengar suara-suara jelek, pesimis, dan menjatuhkan. Pada saat itulah kita harus belajar untuk tuli.
  

Kita sering dianjurkan harus banyak belajar mendengar, supaya dapat lebih memahami. Bahkan saking pentingnya mendengar. Ada asuransi yang menggunakan “mendengar” sebagai slogan. Always listening always understanding. Mendengar juga ada ujian sendiri, ujian listening.

Mendengar memang penting. Tapi kita juga harus gak kalah banyak belajar untuk tuli dan melupakan apa yang telah kita dengar. Tergantung suara apa yang masuk ke telinga kita.

Ini gak mudah, bagi orang yang punya karakter kayak Mawar, dia akan kepikiran terus tentang suara-suara sumbang yang bikin dia jadi takut mau KKN. Meskipun dia juga banyak mendengar cerita menyenangkan dari KKN.

Pada beberapa kasus, orang seperti ini akan kepikiran terus, selalu terngiang-ngiang suara menjatuhkan itu, jadi khawatir tingkat dewa, stress, sakit perut, kemudian maag-nya kambuh.

Gue jujur juga sering kaya Mawar. Suka kepikiran dan sakit perut kalau memikirkan apa yang akan terjadi besok. Kalau udah kaya gini gue biasanya minum obat terus tidur. Nah setelah gejala maag-nya reda, gue berusaha untuk lebih sering menggunakan mulut gue yang satu daripada dua telinga gue. Gue harus banyak berbicara pada diri sendiri kalau suara negatif itu gak bakalan berlaku pada gue. Gua harus sering berbicara pada diri sendiri kalau gue bisa melewati KKN ini. temannya juga banyak og. 

Ini juga gak mudah. Gue sering gagal mensugesti diri sendiri. gue kayaknya butuh di hipnotis nih biar gak deg-degan ngadepin sesuatu. Memberi nasihat dan memotivasi orang lain emang mudah, tapi nasihatin diri sendiri susah banget. Susahnya udah kaya nahan kentut pas kena mencret.

Gak kalah penting gue harus banyak mendengarkan juga, kaya kalimat sakti diatas. Gue harus lebih sering mendengar. Mendengar masukan-masukan bagus yang membangun. Suara-suara positif dan optimisme aja yang didengerin. Cerita-cerita tentang senangnya ikut KKN aja yang mesti dimasukn ke hati.

Last, akhirnya gue mesti banyak belajar. Belajar untuk mendengarkan, belajar juga untuk tuli, dan belajar untuk banyak berbicara. Saya Dedy Cobuzier. Inilah hitam putih.*eh

Nb. Bentar lagi (!5-04-2014)gue KKN. Dan gue kayaknya masih belum berhasil mensugesti diri gue sendiri :|



Pict
http://www.unitedspongebob.com/page.php?page=squidpics
http://wizzkids.wordpress.com/tag/communication-2/

Saturday, 5 April 2014

Gue Gagal jadi Anak Gaul




Gue seharian ini menghabiskan kuota waktu  buat stalking dan ngepoin beberapa temen sekolah dulu. Mulai dari SMA sampai SMA. Temen SD dan SMP belum sepenuhnya tau apa akun mereka. Gak kerasa sekarang udah menginjak hampir 4 tahun lepas SMA. Hampir 4 tahun juga udah mengalami pahit dan getinrya jadi mahasiswa merangkap anak kos. Rentan waktu hampir 4 tahun ini rata-rata mereka jadi pada gaul-gaul. pas SMA juga mereka udah gaul, sekarang gaulnya udah nambah banyak banget.

Berdasarkan sumber terpercaya dari akun-akun mereka di sosial media, gue menyimpulkan 80% dari temen-temen SMA gue pada gaul. 19% gaul banget. 1% gak gaul. Tau siapa yang gak gaul itu? yap, itu gue men. Itu gue. Hikhikhik (ini nangis, bukan suara babi)

Sekarang kita bandingkan. Dulu pas Friendster lagi anget-angetnya (iya ketauan udah tua) gue ikutan buat. Tapi namanya otaknya segede organisme bersel satu, jadi gak mudeng cara mainin Friendster. Jadinya gue punya hanya sebatas “biar dianggap gaul”. Nah pas mulai mudeng Friendster dan mulai ngerasa asik eh tiba-tiba tren berubah. Facebook booming, Temen-temen gue pada bikin dan pindah Facebook. Gue jadi Friendster sendiri. Nulis testi-testi sendiri. tapi tak kunjung dapet balesan.