Norman Kamaru, dari Pos Jaga menjadi Pos Warung Bubur


sumber
Pekan ini publik kita lagi digegerin sama Norman Kamaru, lagi. Bukan. Dia bukan bikin video caiya-caiya part2. Apalagi mohabbatten. Nangis malah entar gue.

Kegegeran kali ini disebabkan pemberitaan dibeberapa media. Media kita lagi gencar nayangin Norman Kamaru  yang kini punya kesibukan baru. Kalau dulu dia ngerekam sendiri di meja tempat dia jaga. Kali ini dia direkam dan diliput oleh wartawan. Keren.

Norman Kamaru sekarang jadi tukang bubur. Adalah tagline yang lagi anget-angetnya diritakan. Persis kayak jok motor lama didudukin jomblo. Anget.

Yap, setelah kurang beruntung dengan melepas keanggotaan di Brimob untuk menekuni dunia artis, dia banting stir jualan bubur. Untung banting stirnya gak kearah kanan, bisa tabrakan entar.

Namanya orang Indonesia, meski gak semua, demen banget ngurusin hidup orang lain. Setelah muncul berita ini, banyak komentar miring yang menyudutkan Norman. rasain lo, syukurin, gak bersyukur udah jadi polisi sih (Tuh kan komentarnya miring semua) sampai kata-kata yang paling menyudutkan, dasar sudut lancip lo.

Gak sedikit juga sih yang komentarnya ngedukung dan ngademin.

Awalnya dulu juga gue menyayangkan keputusan doi keluar dari kesatuan. Tapi gak sampai mencerca tentunya. Tapi setelah minum Garcia…sekali lagi Garcia… pikiran gue jadi terbuka, otak gue mendadak bersih bersinar. Mungkin otak gue habis pake sunlight. Gue jadi terbuka dan kagum bener sama si Norman.
Kalau kita analisa dan coba lihat dari sisi yang lain, dia cerdas.

Dulu dapet duit dari undangan buat hadir dibanyak acara saat itu, kemudian dikumpulin jadi modal buka warung bubur di Jakarta. Meskipun hanya stand warung bubur, ongkos sewa tempat di Jakarta gak murah. Jadi gak cuma Sumedang yang tahu. Kita semua juga tahu hal itu.

Setelah buka warung bubur, dia diliput media. Pikiran jahat gue sih dia sengaja pengin diliput. Ngundang wartawan buat makan gratis terus dibuat berita dimedia masing-masing. Semacam kayak gala premier peluncuran warung bubur gitu.

Ditambah kata detikcom, usia warung buburnya baru beberapa bulan. Semakin cocok. Wartawan ngeliput, berita nyebar, dia jadi trending topic lagi. Efek domino bakalan terjadi.

Lepas dari komentar miring lagi menyudutkan, Norman mendapat keuntungan super banyak. Kita coba amati, dengan dia masuk berita, orang-orang pada penasaran.

“Norman Kamaru sekarang jualan bubur? Kasian. Mending dulu jadi polisi ya, Jeng.”

Komentar selanjutnya, “emang warungnya dimana?”  Yup ini jadi kunci. Orang-orang pada penasaran, kepoin alamat, dan datanglah ke warungnya. Dengan alasan penasaran, entah penasaran wujud norman sekarang kayak apa, atau penasaran sama rasa buburnya. Yang penting warungnya jadi ramai. 

Iklan paling ampuh adalah mulut ke mulut. Berita tempat warung akan tersebar, dan orang-orang yang belum kesana bakalan bergegas. Bergegas cari uang buat jajan disana. 

Kecerdasan terakir adalah dia memilih bubur sebagai komoditi utama. Saat ini sinetron Tukang Bubur Naik Haji masih aja buming meskipun ceritanya sangat gak jelas. Judulnya Tukang Bubur Naik Haji, mana tukang buburnya? Nah Bisa deh tuh Norman masuk, sebagai jawaban dari pertanyaan pemirsa gak setianya. Kalau setia mah gak usah Tanya-tanya, yang penting ada aja udah seneng.

Kalaupun gak ditawarin main disitu minimal banyak yang doain dia buat cepet naik haji. Karena kata “tukang bubur” lekat dengan “naik haji” ya gara-gara sinetron itu. Sama halnya kata “ganteng” bisa aja lekat dengan “serigala” hiii hati-hati tuh yang ngerasa ganteng.

Kembali ke tukang bubur naik haji. Kata ini seolah-olah emang jadi satu. Contohnya mak gue, ketika gue ngomong, “Mak, tau Norman Kamaru yang caiya-caiya?” mak gue ngangguk sambil terus menggoreng tempe, tampak gak antusias.

“Sekarang doi jadi tukang bubur lho?” denger kata itu sontak mak gue terperanjat. Minyaknya menyiprat dikit ke tangan mak gue. Setelah di gosok-gosok ke dasternya, mak gue baru nyahut, “hah, jadi tukang bubur? naik haji dong.” Tuh kan bayangin se Indonesia doain dia agar cepet naik haji. Enak banget kerjannya.

Yusuf Mansur pernah bilang, doa adalah senjata paling ampuh.gak tau kelimat selanjutnya apa.

Melihat fakta tersembunyi itu, gue jadi semakin yakin Norman Kamaru bukan orang biasa. Dia orang Gorontalo. Dia bisa lihat peluang.

Raditya Dika pernah bilang, banyak orang yang gak berani ngambil risiko, padahal hal besar berasal dari risiko yang besar.

Babe cabita pun berkata demikian

So, Iihat sisi positifnya. Kalau dia masih di Brimob, dia bakalan latihan berat, dapet gaji tetap per bulan. Coba lihat dia sekarang, dia lagi kipas-kipas sambil menunggu pelanggan datang. Duit datang sendiri, doa buat naik haji pun terus mengalir.
Good Job, Man!
Norman Kamaru, dari Pos Jaga menjadi Pos Warung Bubur Reviewed by Tomi Azami on 07:31 Rating: 5

4 comments:

  1. nggak pengen jadi silent reader harus ninggalin jejak disini.
    nasi udah jadi bubur, hidup harus tetap dijalani. semua pilihan hidup pasti ada resiko. tinggal sekarang bisa bertahan dengan resiko itu apa nggak.

    oh ya, follbacknya dong kakak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. keren qoutenya mas.

      oke segera meluncur.

      Delete
  2. masih mendingan norman mah bikin toko bubur menado...dari pada saya...nganggur seumur umur

    ReplyDelete
    Replies
    1. semangat, Mang. idenya norman ditiru aja.

      Delete

Tinggalin jejak, bosque, biar bisa ngunjungin balik.
Biar sama-sama ena, kaya permen jagoan neon, ena

All Rights Reserved by Tomi Azami © 2014 - 2015
Powered By Blogger, Designed by MasalahTechno

Contact Form

Name

Email *

Message *

Tomi Azami. Powered by Blogger.