Saturday, 28 March 2015

Tidur, Pakai Bantal atau Tanpa Bantal?




Beberapa hari ini, gue bolak-balik diomelin bapak. Gara-gara gue nonton Naruto sambil tiduran. Pose tidurannya menurut gue asoy banget. Bertumpu dua bantal yang ditumpuk. Laptop ditaruh sejajar dengan bokong gue yang aduhai.

“heh, gak baik laptopan kaya gitu.”
“kenapa, Pak?”
“tengkukmu nanti sakit, bisa-bisa lehermu cedera, metatarsal patah jadi gak bisa nengok.”
“serem amat. Terus gimana?”
“taruh laptop di atas meja, duduk dengan posisi tegap, jangan lupa topinya dipakai.”
“gak sekalian bajunya dimasukin terus pake sepatu hitam, emangnya mau upacara? lagian enakan kayak gini, Pak, inikan lagi nonton, bukan lagi ngetik.” gue coba ngeles.

“kalau gak nurut, ya udah, Bapak mah cuma ngingetin. Katanya gak baik, katanya lagi bisa menyebabkan otot ligament di leher rusak, badan mbungkuk, badan jadi gak ideal, pokoknya parah deh.”
“iya…iya..” gue ngalah. Bapak mah suka gitu. Jarang marah tapi ngingetin semi nakutin.

“lagian bantal tuh buat tidur yang bener, eh tidur pun katanya sebaiknya gak usah pake bantal, lho.”
“kata siapa?”
“ya katanya katanya… jare jare kuwe ta.”

Thursday, 26 March 2015

Hujan




Kata orang hujan itu 1% air 99% kenangan. Tak sepenuhnya benar, dan tak sepenuhnya salah. Hujan tidak sesederhana itu. Hujan mempunyai banyak arti.

Hujan adalah moment. Moment isi pisang yang dijual mamang gorengan.

Hujan dan ngeteh adalah pasangan. Teh yang diaduk pelan. Teh yang akan selamanya tawar sebelum tercelup senyumanmu. (wiranagara)

Hujan adalah keikhlasan. Keikhlasan mencintai. Aku mencintaimu seperti derai hujan.  Yang ikhlas memeluk bumi, meski engkau memilih pelangi. (iitsibarani)

Hujan adalah penghapus. Penghapus kenangan yang melekat dan seolah enggan pergi. Seperti kotoran di wajah akibat debu dan polusi dari usaha mendapatkan hatinya yang berujung luka.

Hujan adalah penutup. Penutup fakta yang coba engkau sembunyikan. Seperti kata Charles Chaplin, I like to walk in rain, so that nobody can see my tears. Atau pepatah lain, I like walking in the rain because no one can see my ingus.

Bagi budak sajak, hujan adalah saat yang syahdu untuk meracik kata-kata.
Bagi pelukis, hujan adalah waktu menggoreskan kuas di atas kanvas.

Bagi tuna asmara, hujan adalah waktu yang tepat untuk menyandarkan kepala di jendela. Menatap bulir yang jatuh bergilir. Menemani kekosongan yang terus menghujam kalbu dan angan. Melody air bertumbuk tanah seolah mengiringi sayatan luka dari kata menyerah yang kembali terbuka.

Hujan adalah nostalgia. nostalgia ingatan masa anak-anak, berlarian mengejar bola dan jatuh di genangan. Semua ditutup ketika adzan magrib berkumandang. Untuk mengenang itu, cobalah engkau berdiri di tengah hujan. Niscaya kamu akan berdiri di huruf J.




sumber gambar: http://www.hdwallpaperscool.com/rain-desktop-wallpaper/

Sunday, 22 March 2015

Belajar jadi Selebtweet



Songong banget ya judulnya. Haha. Kesannya sok-sokan banget, sombong, dan arogan. Arogan tunggal.

Maksud tulisan ini hanya untuk berbagi cerita aja. Kemarin mention gue direply sama Raditya Dika dong. Akhirnya, setelah 5 tahun follow. Gak nyangka gue. Padahal gue asal mention aja, gak berharap dibales, eh ternyata dibales. Rezeki anak saleh.


Dampak mention dibalas akun dengan 9 juta followers, notif gue banyak banget. Gue sibuk buka-buka tab interaction terus. Berasa jadi selebtweet yang followersnya banyak, padahal perbandingan jumlah mention, retweet, dan favorite yang masuk lebih banyak dari jumlah followers gue. coba perhatikan foto tadi deh. Hebat kan.

Gue udah berasa jadi selebtweet, beneran. Selama beberapa jam bahkan beberapa hari, kegiatan gue bolak-balik liatin tab interaction, gak buka TL. Buka TL bentar, eh ada puluhan notif baru. Karena gak pernah dapet notif sebanyak itu gue buka lagi notifnya. Gue jadi gak fokus stalking twitter member JKT48, karena mention yang menghujani tab interaction gue.






Ya gitu kan, selebtweet kan kalau main twitter gak buka TL tapi bukanya tab mention. Beda ma gue, remah-remah twitter, kalau twitteran cuma baca TL. Da aku mah atuh yang followersnya isinya teman sendiri, yang harus bermodalkan ‘follback eaaaa.’

Oleh karena itu, dari lubuk hati yang terluka oleh seseorang, gue mengucapkan terima kasih banyak kepada Bang Raditya Dika, sudah memberi kesempatan bagi gue untuk merasakan jadi selebtweet. Merasakan notif yang terus berdatangan seperti sms dari operator dan followers nambah adalah sensasi yang tak akan terlupakan.

Gue harap, sering-sering, ya, bang. Sering-sering mention gue, ntar gue reply deh. Biar lo juga bisa ngerasain mention lo dibales sama remah-remah twitter, kaya gue. Belum pernah kan?

Thursday, 19 March 2015

Apa itu Passion?




Sampai sekarang gue masih bingung apa itu passion. Orang-orang sering ngomongin untuk menekuni kerjaan sesuai passion. Tapi gue gak paham artinya. Katanya kerja sesuai passion bakalan menyenangkan, kita gak bakal ngerasa kerja, tapi lagi main-main.

Kalimat lain, “temukan passion kamu, tekuni, dan kamu akan bahagia.”
“Malang sekali kalau orang bekerja tidak sesuai passion, dia akan tersiksa.”

Monday, 16 March 2015

Tentang Kalimat Itu




Jupri sedang mengepel lantai ruang tamu ketika mendapati ada sebuah undangan di bawah pintu. Undangan itu nampak bengkak dan kemerah-merahan karena lama terjepit dan tidak segera ditolong. Jupri berhenti mengepel, sambil memakai kembali kaus yang dijadikan kain pel, Jupri mengambil undangan dengan pita berwarna cokelat muda. 

 “Wih teman SMA mau nikah, nih.” Batin Jupri.

Jupri tersanjung karena mendapat undangan nikah. Selama ini dia hanya mendapat undangan dari muadzin buat ke masjid melalui adzan. Jupri memegang undangan itu dengan mata berbinar dan senyum mengembang kaya Sari Roti. Jupri senang karena sekarang ia sudah dianggap dewasa, ya dapat undangan pernikahan merupakan salah satu indikator usia seseorang.

Karena sudah dikirimi undangan dengan namanya tertera, Jupripun berniat datang. Dia merasa dihormati karena mendapat undangan dalam bentuk fisik. Bukan berupa mental. Eh maksudnya bukan undangan via BBM.

Saturday, 7 March 2015

Wejangan dari Om



Kemarin malem gue habis main ke rumah om. Seperti lazimnya om pada umumnya, dia akan memberikan pertanyaan-pertanyaan pada keponakannya yang bikin kenyang lahir dan batin.

Iya kenyang lahir dan batin. Ditanya ‘udah makan belum?’ tentu bikin kenyang perut. Sambil makan gue disuguhi pertanyaan yang bikin kenyang hati juga. Kenyang dengan kegalauan dalam hati. ‘sekarang semester berapa?’ dan ‘kapan wisuda?’ pertanyaan kayak gitu udah bikin kenyang hati gue. Gue udah gak ngitung lagi berapa pertanyaan itu terlontar dari saudara-saudara gue tiap gue pulang kampung.


Kalau pertanyaan-pertanyaan itu ibarat “appetizer”  setelah itu yang akan dikeluarkan adalah “main course” dalam bentuk wejangan-wejangan. Iya, gue di kandani banyak hal untuk kedepan.