Thursday, 26 March 2015

Hujan




Kata orang hujan itu 1% air 99% kenangan. Tak sepenuhnya benar, dan tak sepenuhnya salah. Hujan tidak sesederhana itu. Hujan mempunyai banyak arti.

Hujan adalah moment. Moment isi pisang yang dijual mamang gorengan.

Hujan dan ngeteh adalah pasangan. Teh yang diaduk pelan. Teh yang akan selamanya tawar sebelum tercelup senyumanmu. (wiranagara)

Hujan adalah keikhlasan. Keikhlasan mencintai. Aku mencintaimu seperti derai hujan.  Yang ikhlas memeluk bumi, meski engkau memilih pelangi. (iitsibarani)

Hujan adalah penghapus. Penghapus kenangan yang melekat dan seolah enggan pergi. Seperti kotoran di wajah akibat debu dan polusi dari usaha mendapatkan hatinya yang berujung luka.

Hujan adalah penutup. Penutup fakta yang coba engkau sembunyikan. Seperti kata Charles Chaplin, I like to walk in rain, so that nobody can see my tears. Atau pepatah lain, I like walking in the rain because no one can see my ingus.

Bagi budak sajak, hujan adalah saat yang syahdu untuk meracik kata-kata.
Bagi pelukis, hujan adalah waktu menggoreskan kuas di atas kanvas.

Bagi tuna asmara, hujan adalah waktu yang tepat untuk menyandarkan kepala di jendela. Menatap bulir yang jatuh bergilir. Menemani kekosongan yang terus menghujam kalbu dan angan. Melody air bertumbuk tanah seolah mengiringi sayatan luka dari kata menyerah yang kembali terbuka.

Hujan adalah nostalgia. nostalgia ingatan masa anak-anak, berlarian mengejar bola dan jatuh di genangan. Semua ditutup ketika adzan magrib berkumandang. Untuk mengenang itu, cobalah engkau berdiri di tengah hujan. Niscaya kamu akan berdiri di huruf J.




sumber gambar: http://www.hdwallpaperscool.com/rain-desktop-wallpaper/

2 comments:

Tinggalin jejak yuk, Jangan jadi Silent Reader, biar bisa ngunjungin balik. Biar sama-sama ena, kaya permen jagoan neon, ena