Monday, 25 May 2015

Viking atau The Jak?



Tanggal merah pertengahan Mei kemarin waktu yang tepat buat pulang kampung halaman di Tegal. Di tempat lahir beta, gue isi dengan belajar mengendarai tunggangan baru. Bosen cuma bisa naik motor roda dua aja. Pengin sesuatu yang baru, makanya gue belajar naik… motor Tossa.

Cita-cita bisa slalom pake Tossa. Terus masuk tipi, terus pura-pura bertengkar atau ketipu sama Viki Prasetyo biar eksis terus. Cita-cita gue emang mulia.

Perjuangan gue meraih cita-cita dimulai di lapangan desa tetangga. Mau langsung di jalan raya, gak enak. Lagian jalan raya bukan ajang belajar naik kendaraan, kecuali les nyetir atau les jahit. Itu udah dapat izin polisi.

Pas lagi asyik nggeber-nggeber Tossa yang knalpotnya bolong, gue didatangi sama gerombolan anak SD yang pada mau main bola. Mereka mendekat, liat-liat Tossa gue yang dilengkapi wifi dan WC umum. Dengan raut wajah gumun, mereka mengelus-elus besi grobagnya. Lalu salah satu dari mereka bertanya,

“Om, koen piking atau dejek?”
“Hah?”
“Piking atau dejek?”
“Oh, Viking atau The Jak?” Agak kecewa, gue kira mau muji Tossa gue. “Aku Persibom.” Jawab gue mantap.

Saturday, 16 May 2015

Yang Terjadi kalau Kamu Menerima Undangan Pernikahan



Kata nikah itu merupakan kata sensitif bagi usia 20 tahun ke atas. Rasanya sama sensitifnya kaya kata skripsi bagi mahasiswa akhir. Atau istilah STMJ, Semester Tujuh belas Masih Jomblo. Ditambah kamu dapat undangan pernikahan, beuh sensi kamu bakalan naik.

Kamu seolah dituntut kudu cepet-cepet ngejar. Gak harus jurusan pendidikan yang bisa ngejar, semua orang bisa ngejar asal ada tekad yang bulat, kaya Julia Perez. Doi bulat banget, tekadnya, sehingga sekarang ini doi bisa tajir dan banyak job.

Gak cuman kamu yang nuntut ngejar. Orang-orang disekitar kamu juga akan menanyakan pertanyaan wajib. “kamu kapan nyusul?’

Pertanyaan kayak gitu membuat kamu bĂȘte merasa sensitif kaya kena PMS. Gak cuma sensitif yang agak naik. Banyak hal yang akan terjadi kalau kamu menerima undangan pernikahan. Apa aja? Cekibrot.

Saturday, 9 May 2015

Tentang Sudut Pandang, Persepsi, dan kawan-kawan

pict



Gue sering jadi tempat bercerita. Jadi pendengar ketika orang-orang di sekitar gue mengungkapkan uneg-uneg mereka. Tapi tanpa dihipnotis dulu kaya Uya Kuya. Gue emang hebat. Berbakat jadi pendengar. Kalau ada audisi jadi pendengar radio, gue pasti langsung keterima.

Macam-macam persoalan sering gue denger. Persoalan pribadi, apa yang terjadi hari ini, sampai keluh kesah susahnya ketemu dosen pembimbing. Ditelepon gak bisa, disms gak dibales, ditungguin gak ke kantor. Giliran lagi gak butuh, nongol. Ilmu dosen emang luar biasa.

Sayangnya, dari sekian persoalan yang mampir ke kuping gue, jarang banget gue ikut nyelesain masalah. Kasih saran aja jarang. Ya itu tadi, gue cuma jadi tempat orang lain mencari rasa lega di hati. Kok gue kayak jamban yah.

Gak ding, gue juga suka kasih saran kok. Setahu dan sok tahu gue dan gak nuntut buat dilaksanakan.

Gue sih gak masalah dengan itu semua. Gue nyaman aja kok jadi tempat berkeluh kesah. Sama keluarga, teman, atau orang di sekitar gue. Gue malah bersyukur. Gue merasa dapat kepercayaan. Kepercayaan itu mahal harganya, lho. Gak ada diskon dan senin harga juga gak naik. Selain itu, gue juga sering dapat pelajaran dari persoalan-persoalan yang mampir ke telinga gue.

Kayak misal....