Monday, 25 May 2015

Viking atau The Jak?



Tanggal merah pertengahan Mei kemarin waktu yang tepat buat pulang kampung halaman di Tegal. Di tempat lahir beta, gue isi dengan belajar mengendarai tunggangan baru. Bosen cuma bisa naik motor roda dua aja. Pengin sesuatu yang baru, makanya gue belajar naik… motor Tossa.

Cita-cita bisa slalom pake Tossa. Terus masuk tipi, terus pura-pura bertengkar atau ketipu sama Viki Prasetyo biar eksis terus. Cita-cita gue emang mulia.

Perjuangan gue meraih cita-cita dimulai di lapangan desa tetangga. Mau langsung di jalan raya, gak enak. Lagian jalan raya bukan ajang belajar naik kendaraan, kecuali les nyetir atau les jahit. Itu udah dapat izin polisi.

Pas lagi asyik nggeber-nggeber Tossa yang knalpotnya bolong, gue didatangi sama gerombolan anak SD yang pada mau main bola. Mereka mendekat, liat-liat Tossa gue yang dilengkapi wifi dan WC umum. Dengan raut wajah gumun, mereka mengelus-elus besi grobagnya. Lalu salah satu dari mereka bertanya,

“Om, koen piking atau dejek?”
“Hah?”
“Piking atau dejek?”
“Oh, Viking atau The Jak?” Agak kecewa, gue kira mau muji Tossa gue. “Aku Persibom.” Jawab gue mantap.

“Wih keren.” Kata anak berkaus biru.
“Iya keren.” Timpal anak yang memegang bola yang mirip gaya rambutnya.
“Persibom, Jon.” Imbuh anak sebelahnya, mukanya kaya adul, tapi rambutnya berombak.

Lalu hampir serempak mereka bertanya, “Persibom sih mana om?”
“Wah wih wah wih tak kira dah tau. Persibom tuh Bolaang Mongondow. Kalian sih kenalnya Persib sama Persija tok.
Gak boleh tahu Viking sama The Jak musuhan. Kan sama-sama suka sepak bola.” Gue coba menasihati dengan cara gampang diterima.
penginnya gue tuh mereka kaya gini
“Kalau bonek dan aremania?”
“Nah itu baru boleh.”
Oke yang terakhir itu ngaco.

“Emang kenapa kok tanya begitu?” gue iseng tanya.
“Lapangan ini wilayah Viking om, hati-hati deh kalau ada anak The Jak main kesini.” Jawab anak yang mukanya kayak adul.

Gue langsung sujud syukur, beruntung banget tadi gak salah jawab. Takutnya nanti gue digebugin gerombolan anak kecil tadi. Pake kaos yang dililit membentuk gear motor.

“Om tahu gak siapa yang megang lapangan ini?” Tanya anak gendut, mungkin dia bosnya.
“Bapak kamu, ya?” jawab gue.
“Pemerintah lah om. Kaya kuwe ora ngarti.” Celetukan yang diiringi gelak tawa satu geng.

Saus Tartar! gue dikerjain tuyul-tuyul bermuka lecek beringus kering yang membentuk relief di pipi.
Gue mencoba menjitak kepala dia, tapi mereka dah mulai lari. “Dah sana lanjut main bola.”


Gue pun lanjut latihan motor Tossa. Gue mutar-muter di lapangan bagian barat. Sementara anak-anak bajigur tadi bermain bola di sebelah utara. Gawang mereka dibuat dari batu yang disusun. Ternyata zaman sekarang masih ada anak-anak yang merasakan kebahagiaan sederhana itu.


Setengah jam berlatih, bokong gue mulai kesemutan. Setelah memarkir Tossa di bawah pohon, gue duduk dan minum. Melihat anak-anak bermain bola plastik. Gue teringat pertanyaan mereka tadi. Tentang Viking atau The Jak.

Bercengkrama dengan anak-anak tadi seolah menyadarkan gue. Anak jaman sekarang gak cuma udah tahu cinta-cintaan dan manusia siluman. Tapi juga kehidupan pribadi finalis D’academi 2.
Loh salah pembahasan.
Maksudnya rivalitas antar klub bola. Di usia kira-kira kelas 4-5 SD sudah tahu kalau supporter Persib, Viking, dan supporter Persija, The Jak, itu musuhannya gak santai.

Jaman gue kecil, klub pertama yang gue dan teman-teman tahu adalah AS Roma dengan Francesco Totti sebagai iconnya. Waktu itu Totti masih muda, jenggot yang membentuk garis lurus, dan gondrong kayak Wiro Sableng. Keren. Jadilah AS Roma menjadi klub favorit semua murid di SD gue.


Kalau anak-anak tadi lahir atau tinggal di daerah Bandung atau Jakarta sih mungkin wajar ya, sering didoktrin kalau klub bola kota sebelah harus dimusuhi. Padahal gak baik yah. Lah ini lahir dan tumbuh di Tegal, bisa tahu rivalitas dan mereka sudah memihak satu kubu.

Dan pertanyaan mereka tadi secara tidak langsung ingin tahu kalau gue itu kawan atau lawan mereka.
Bisa kebayang kalau mereka kenalan.
“Hai, aku Jablud.”
“Halo, aku Jum.”
“Mulai hari kita berteman yah.”
“Iya. Eh tapi tunggu deh. Kamu Viking atau The Jak?”
“Viking.”
“Wih musuh. Gear motor mana gear motor.”

Gue gak tahu apa mereka dipengaruhi orang yang lebih tua yang ada di sekitar mereka atau tahu prestasi kedua klub sehingga memutuskan buat dukung salah satu klub. Mungkin lebih ke dipengaruhi orang sekitar.

Kalian pernah nonton pertandingan bola langsung di stadion? Beuhh… yel-yelnya kadang gak cuma nyemangatin tim yang didukung, tapi ngata-ngatain pemain tim lawan. Pemain tim lawan dikatain asu lah. Kadang wasitnya juga di-asu-in kalau keputusannya gak berpihak pada tim tuan rumah.

Disitu kadang saya sedih. Banyak anak kecil ikutan nonton live dan dengan semangatnya ikutan ngatain asu. Sama kaya kalau pas sholat jamaah, ketika ‘waladholllin…’ anak-anak dengan lantangnya ngucapin ‘aamiin…’ ini juga dengan lantang dan tidak berdosa bilang “wasit asu…wasit asu…” parah…parah.

Gak pantes banget. Sama gak pantesnya jika ada asu yang dikatain tim lawan atau wasit.
“wih ada anjing tuh. Hei, asu, dasar wasit lu.” Kan gak pantes banget.
*kriuk kriuk* *krik krik*


Tanpa sadar, anak-anak udah diajarin membenci sesuatu yang berbeda darinya. Guru-guru udah susah-susah nanemin nilai-nilai Pancasila seperti sopan santun, toleransi, dan tenggang rasa seolah gak nancep tuh di hati mereka.
“wih lihat, ada anak pake kaus orange, padahal kita pake kaus biru. Ayo asu-in dia.”

Itu tuh wujud militan, lo tau gak, Su?
Eh buset gue di-asu-in.

Militan ya… hmmm.. menurut gue militan gak seperti itu deh.
Menurut kamus Bahasa Indonesia, militan artinya bersemangat tinggi, penuh gairah, penuh semangat dukung. Jadi gak ada hubungannya dengan ngeledek pakai nama hewan, kekerasan, atau coret-coret tembok.

Kalau ngeledeknya dengan cara elegan sih masih bisa maklum ya, kayak fans MU ngeledek fans Liverpool dengan #YNWA yang harusnya 'You’ll Never Walk Alone' jadi 'You’ll Never Win Again'

Bisa bermakna ganda, bisa emang ngeledek. Tapi bisa juga motivasi buat Liverpool buat menang terus. Tapi kalau ngeledeknya dikata-katain nama hewan, kayaknya agak kurang sopan ya.

Kadang gue bingung deh. Kalau dilihat-lihat pemain Persib dan Persija gak saling ejek. Mereka salaman bahkan ngobrol bareng ketika supporter dua klub lagi khusu’ lempar-lemparan batu. Para supporter yang bertameng militan pada klub favorit seolah dapat ACC buat melakukan kekerasan dan vandalisme.
Pemainnya malah pengin mereka damai
Tugas orangtua, guru, dan pemuka agama kayaknya perlu ditambah nih. Kalau dulu bolak-balik dikasih pesan kalau berteman gak boleh membedakan sara. Sekarang kudu ditambah jadi sarak. Suku, agama, ras, dan klub bola.

kayak ginikan cakep
betul tuh

sumber gambar
http://www.jpnn.com/read/2014/04/11/227884/6-Poin-Perjanjian-Suporter-Persib-dan-Persija
http://www.kaskus.co.id/thread/50d9a9c01dd719e706000005/ente-yg-ngrasa-the-jak-amp-viking-masuk/1
http://www.bola.net/editorial/jakmania-vs-viking-rivalitas-yang-tak-pernah-padam.html

42 comments:

  1. Betul, Tom. Harusnya supporter liat pemain dari klub yang mereka dukung. Mereka aja damai kok supporternya yang rusuh? Tapi bagian latihan motor Tossa itu lucu. Hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. katanya sih militan..katanya.. kalau gak berani rusuh, gak loyal. katanyaa..
      haha, makasih. salah satunya berkat sering baca blog lo bro.

      Delete
  2. Berteman seclub bola
    Cerita indah lebih dari cinta
    Karna cemburu ga ada
    yang ada selalu ceria bersama

    ReplyDelete
    Replies
    1. tapi saling lempar botol jadi realita
      gak cukup botol, batu juga
      rumah warga gak luput jadi mangsa
      sampai ada yang berkorban nyawa

      Delete
  3. Enakan liatin perseteruan antar pelatih. Kayak Mourinho sama Arsene Wenger. Seru liat keduanya adu mulut, hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi ga sampai adu fisik. Ga seru, ah *provokator*

      Delete
    2. seruan kalau barca madrid adu fisik, apalagi kalau pepe yang mulai. hahaha

      Delete
  4. Gue pilih mana ya.. cari aman aja deh. Ga milih dua-duanya.
    Pilih Real Madrid aja. Ya meskipun musim ini tanpa gelar dan pelatih sekelas Anchelotti harus dipecat :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau ada yang barca, lo jadi gak aman bro.haha
      yah payah, gak tahu terimakasih tuh, udah la decima juga malah dipecat.
      pukpuk ancelotti

      Delete
    2. Kejamnya dunia kepelatihan di sana. -_-

      Delete
  5. slalom pake tossa hahahaha

    dikit-dikit musuhin. tapi musuhinnya entah dari saking fanatiknya atau cuma ikut-ikutan temennya. lha kalo ngedukung ya ngedukung, ga perlu ngebantai yang lain. Identitas Indonesia yang ramah kan jadi ilang :(
    *tsurhat*

    ReplyDelete
    Replies
    1. susah banget, Ja. :D

      beuhh bijak banget. eh lo kan anak bandung. jangan2 lo ada di shaf depan kalau rusuh? :D

      Delete
    2. HA? SHAF DEPAN? NO!
      shaf belakang dong, ambil nasi bungkus paling cepet, tom. *lah*

      Delete
    3. mana sempat, kan banyak botol dan batu melayang2... mau lauk itu?haha

      Delete
  6. Nasibmu, Tom. dicengin anak kecil. O_o

    aku biasanya cari aman sih, jawab aja klub bola asal daerah sendiri. lagian, nggak begitu ngikutin bola dalem negeri juga sih. *aku warga negara tidak baik*

    ReplyDelete
    Replies
    1. mereka beraninya kroyokan sih :(

      ngikutin juga lebih banyak konfliknya. eh harusnya tetep ngikutin, jadi bisa ikut komen kisruh pssi kemenpora

      Delete
  7. Bner ganget nih ngapain harus ribut"
    gue pilih aman, pilih wasit deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. wasit kan malah sering di pangiil naman hewan :/

      Delete
    2. lah trus pilih siapa mas biar aman?

      Delete
    3. pilih pantia penyelenggaranya, kan gak ada yg kenal

      Delete
  8. bener banget men! udah bosen gue sama konflik suporter. dari gue masih sd juga udah ribut..
    padahal, pemainnya akur-akur aja. tapi, suporternya parah kalau udah kelibat bentrok. ada yang sampe brutal banget....

    ReplyDelete
  9. Wah, anak-anak kecil udah pada tau, ya... Setuju lho, sama-sama suka sepak bola kenapa bermusuhan, kalau suportif kan lebih nyaman ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul, Kak Indi. kalau rusuh malah gak jadi main. gak ada hiburan deh

      Delete
  10. Wahh, anak kecil aja, udah sampe segitunya, ya sama urusan bola.

    Gue jadi takut, pas ditanyaain gitu, keknya gue mending jawab TIMNAS. Cari aman aja, gue juga gak mau digebukin anak SD pake pengapus yang dibuat jadi celurit.

    Pelajaran naik tossa yang aneh menurut gue. Nasib2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nggilani anak sekarang. haha hati2 aja bang, senjata itu sering dikantongin anak SD.

      Delete
  11. benerkang harusnya ditambhkan tugasnya. tidk membedakan klub bola.
    tapi kenapa ya para superter harus galak - galakan gituh emang ngaruh gitu ke pamain bolanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. malah jadi terancam yah.. ya itu tadi, katanya sih militan

      Delete
    2. padahal mah tertib aja ya. damai kan indah di pandang mata ya

      Delete
  12. hmm karena gue asli bandung pasti pilih the jack lah... #mulaingawur


    mampir-mampilah ke blog ala-ala gue di www.travellingaddict.com
    thx :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wih, ketahuan komandan viking nanti lho

      Delete
  13. bersatu kita teguh, bercerai kita berantakan.
    saya dukung Indonesia aja deh.. heheh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. kayaknya bercerai kita runtuh deh..

      setujuuhh

      Delete
    2. wkwkwk.. udah di ganti bang kemarin. :v

      Delete
  14. Betul Mas Tomi, keegoisan dari para supporterlah yang telah menodai kancah persepak bolaan di negeri ini. Masing-masing merasa dirinyalah yang paling hebat. Salam kenal dari blog sebelah Mas

    ReplyDelete
  15. Betul Mas Tomi, keegoisan dari para supporterlah yang telah menodai kancah persepak bolaan di negeri ini. Masing-masing merasa dirinyalah yang paling hebat. Salam kenal dari blog sebelah Mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. oknum suppoerter bang.

      yoi salam kenal dari blog sini.

      Delete
  16. Hahaha lucu-lucu banget itu anak-anak. Berhubung saya asli tasikmalaya iya saya dukung viking aja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wajar.. jawa barat.
      musuhin the jak gak nih? :p

      Delete
  17. Viking oh viking? Banyak tulisan viking di tembok2 maksudnya apa yach

    ReplyDelete
    Replies
    1. coba tanya yang nyoret2. biasanya ada CP nya.

      Delete

Tinggalin jejak yuk, Jangan jadi Silent Reader, biar bisa ngunjungin balik. Biar sama-sama ena, kaya permen jagoan neon, ena